Halaqah 189: Ahlus Sunnah Menjaga Jama’ah

Halaqah yang ke-189 dari Silsilah ‘Ilmiyyah Pembahasan Kitab Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah yang ditulis oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, beliau mengatakan:

ويحفدون على الجمعة

Dan mereka menjaga الجمعة yaitu Jama’ah, yaitu menjaga jama’ah dan di antara maknanya adalah menjaga shalat berjama’ah.

Dan shalat berjama’ah ini adalah perkara yang sangat banyak penting dan dia adalah syiar di antara syiar agama Islam dan para ulama berselisih pendapat apa hukumnya.

Ada yang mengatakan hukumnya adalah sunnah yang muakkadah, ada yang mengatakan hukumnya adalah wajib orang yang tidak menghadiri shalat berjama’ah maka dia berdosa, dan ada yang mengatakan bahwasanya hukumnya adalah bahkan syarat artinya kalau seseorang mampu untuk berjama’ah dan dia tidak berjama’ah maka ini tidak sah shalatnya, ini menunjukkan bagaimana hukum shalat berjama’ah ini.

Dan ternyata Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka adalah orang yang menjaga shalat berjama’ah ini, antum lihat bagaimana Ahlus Sunnah wal Jama’ah di mana-mana mereka adalah orang yang paling memakmurkan masjid.
Meskipun terkadang masjid tersebut adalah masjid yang kebanyakan amalan yang dilakukan di situ adalah amalan yang tidak sesuai dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, tapi itu tidak menghalangi mereķa untuk shalat berjama’ah bersama kaum muslimin, kita mengingkari memang kemungkaran yang mereka lakukan, tapi kita tidak mengkafirkan, kita menganggap sah shalat di belakang mereka.

Mereka يحفدون على الجمعة mereka menjaga shalat berjama’ah bersama kaum muslimin karena memang Allah subhanahu wata'ala mengatakan:

وَارْكَعُوا مَعَ الرَّاكِعِينَ

“Hendaklah kalian rukuk bersama dengan orang-orang yang rukuk.”

Bukan sendirian dan mereka mengetahui tentang keutamaan shalat berjama’ah. Shalat berjama’ah ini berlipat 27 atau 25 kali dari shalat sendirian.

Dan Nabi shallallahu 'alaihi wasallam pernah didatangi orang yang buta kemudian meminta udzur kepada Nabi shallallahu 'alaihi wasallam untuk tidak menghadiri shalat jama’ah ditanya oleh Nabi shallallahu 'alaihi wasallam,

أتسمع النداء

“Apakah engkau mendengar adzan?”

Dia mengatakan, “Iya”

Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan,

فأجب

“Maka datangilah. ”

Yaitu shalat berjama’ahlah bersama yang lain.

Sehingga sebagian ulama ada yang mewajibkan meskipun wallahu a’lam pendapat yang kuat dia adalah sunnah muakadah tapi tidak sepantasnya seorang yang berakal meninggalkan shalat berjama’ah ini.

Dalam urusan dunia seandainya kita disuruh memilih berjualan di sebuah tempat yang di situ kita hanya mendapatkan keuntungan satu juta sementara di tempat yang lain kita mendapatkan keuntungan 25 juta dalam sehari maka orang yang berakal akan memilih tempat yang di situ akan mendapatkan keuntungan 25 juta.

Maka seharusnya dalam masalah pahala akhirat kita bersemangat untuk mencari amalan yang di situ dilipat gandakan oleh Allah subhanahu wata'ala pahalanya sehingga mereka yaitu Ahlussunnah sangat semangat untuk melakukan shalat berjama’ah ini. Berbeda dengan yang lain, kalau kita melihat masjid-masjid Ahlussunnah adalah masjid yang ramai di dalam kajian mereka di dalam shalat lima waktu mereka.

Adapun masjid yang lain terkadang orang-orang tuanya saja yang datang, tidak tahu anak mudanya pada kemana, itu pun masih mending terkadang tidak ada sama sekali tidak ada yang adzan tidak ada yang iqamah sibuk dengan urusan dunia mereka masing-masing.

Ini menunjukkan bahwasanya Ahlus Sunnah wal Jama’ah mereka memiliki sikap yang sangat sangat mulia ini dan saya sebutkan di sini satu atsar dari Abdullah Ibnu Umar bahwasanya dahulu Abdullah bin Umar beliau shalat di belakang Al-Hajjaj ibnu Yusuf, ini contoh dan teladan dari para salaf kita bahwasanya mereka shalat di belakang imam, baik yang shalih maupun yang fajir.

Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dan yang lain mereka shalat di belakang Al-Walid ibnu Uqbah, dan Al-Walid bin Uqbah beliau adalah seorang pemimpin yang meminum minuman keras artinya dia adalah orang yang fasiq tapi ternyata Abdullah bin Mas’ud seorang sahabat Nabi shallallahu 'alaihi wasallam beliau shalat di belakang Al-Walid bin Uqbah dan ini menguatkan apa yang disebutkan oleh syaikhul Islam di sini Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan dicontohkan oleh para sahabat mereka shalat di belakang pemimpin baik yang shalih maupun yang fajir.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url